Hidup dalam pengharapan ( mengidap HIV dan hemophilia )

Seorang siswa yang mengidap HIV dan hemophilia hidup dalam pengharapan….untuk sebuah alasan. Bagaimana kamu dapat memiliki sebuah harapan tanpa perduli apa yang diberikan hidup padamu?

Oleh: Steve Sawyer

Kesaksian pribadi...   Di sekolah dasar, Steve Sawyer, menderita Hemophilia, terjangkit virus HIV dan Hepatitis C dari persediaan darah yang terkontaminasi. Bertahun-tahun kemudian, pada umur 19 tahun, mengetahui bahwa kematiannya sudah dekat, Steve menggunakan sisa waktunya untuk berkeliling ke universitas-universitas, bersaksi kepada para mahasiswa tentang apa yang dia pelajari dari menjalani hidup dengan harapan dan kedamaian ditengah-tengah keadaan yang sulit. Ribuan mahasiswa yang mendengar kesaksian Steve mengatakan bahwa kesaksiannya tentang harapan dan kasih Tuhan telah mengubah hidup mereka selamanya. Pembicaraan yang akan kita lihat dibawah ini adalah salah satu kesaksian yang Steve berikan di Universitas California, di Santa Barbara.

Di luar pantai Maine, ada sebuah kapal angkatan laut berlayar di dalam kabut yang tebal. Malam ini, seorang kadet melihat sebuah cahaya di kejauhan dan segera saja dia memberitahu kaptennya.” Ada sebuah cahaya di kejauhan yang mengarah langsung ke kita, saudara ingin saya melakukan apa? Kapten itu memberitahu kepada dia untuk menyampaikan sinyal kepada kapal itu, memberitahunya agar mengubah jalur. Kapal itu membalas sinyal tersebut, “tidak, kapal kalian yang harus mengubah jalur.” Sekali lagi, sang kapten mengintruksi kadet untuk memerintahkan kapal yang menuju kearah mereka untuk mengubah jalurnya segera. Sekali lagi, jawaban yang mereka dapat adalah “tidak, kapal kalian yang harus mengubah jalur.” Dengan usaha terakhir, sang kadet membalas kapal tersebut dengan berkata, “Ini adalah kapten kapal perang Angkatan Laut Amerika dan saudara harus segera mengubah jalur kapal saudara”. Dan balasan kepada mereka adalah, “tidak, kapal kalian yang harus mengubah jalur. Ini adalah Mercusuar.”

Cerita tersebut menggambarkan kepada kita bagaimana kita sebagai manusia cenderung mengalami kesakitan dan penderitaan. Kita selalu ingin agar masalah yang terjadi di sekitar kita itu berubah jalurnya atau keadaannya, daripada merubah diri kita sendiri untuk menghadapi masalah tersebut. Hidupku adalah contoh yang sempurna untuk hal ini.

Hidup dengan HIV: Tahap pertama

Saya terlahir sebagai penderita Hemophilia, kelainan darah yang membuat tulang-tulang dan persendiaan saya membengkak tanpa alasan. Penderita Hemophilia dirawat dengan sebuah protein yang dikumpulkan dari persediaan-persediaan darah yang didonor. Lalu, kira-kira antara tahun 1980 dan 1983, salah satu pendonor yang sering menyumbang ke kelompok persediaan darah saya tertular virus HIV. Dan hasilnya, semua pengobatan yang saya terima dari kelompok tersebut (biasanya ratusan) tertular virus HIV. Kemudian saya juga menderita Hepatitis C dengan cara yang sama.

Saya sebenarnya tidak diberitahu bahwa saya positif menderita HIV sampai beberapa tahun kemudian pada saat tahun kedua saya di sekolah menengah atas. Ketika saya diberitahu, reaksi pertama saya adalah sama seperti reaksi umum biasanya ketika kita mendapat sesuatu yang tidak bisa kita hadapi. Saya dengan mudahnya menyangkal bahwa saya adalah penderita positif HIV dan saya mencoba untuk berpura-pura bahwa penyakit itu tidak ada. HIV tidak menyerang seperti Hemofilia menyerang. Bila Hemofilia ini kambuh, persendiaan dan otot-otot membengkak dan rasanya sangat menyakitkan. Tetapi HIV tidak memiliki gejala-gejala luar. Saudara tidak dapat melihatnya, jadi mudah saja untuk berpura-pura bahwa saya tidak memilikinya. Seperti ini juga orang tua saya menghadapi permasalahan ini. “kau terlihat sehat dan baik-baik saja, kau pasti baik-baik saja.

Hidup dengan HIV: Penyangkalan

Contoh yang bagus untuk penyangkalan semacam ini ada dalam film, Monty Python dalam pencarian Cawan Suci. Dalam salah satu adegan, Raja Arthur berderap memasuki hutan dan seorang ksatria memakai baju besi berwarna hitam menyeberang. Ksatria itu menghadang jalan Raja Arthur, dan Raja Arthur sadar bahwa dia tidak dapat melewatinya kecuali dia mengalahkan ksatria itu dalam sebuah pertarungan. Pertarungan pun terjadi dan raja Arthur dapat memotong tangan ksatria itu. Raja Arthur menyarungkan pedang dan panahnya dan mulai berjalan meninggalkan ksatria itu, tetapi ksatria itu berkata, “tidak” dan raja Arthur berkata, ” aku telah memotong tanganmu!” Ksatria melihat tangannya dan berkata, “tidak, kau tidak melakukannya.” Jadi Raja Arthur memsaudarang ke tanah dan berkata, ” lihatlah tanganmu di sana” kemudian ksatria itu berkata, ” itu hanya sebuah daging yang terluka”. Raja Arthur sadar bahwa dia harus memotong ksatria ini agar dapat melewatinya. Akhirnya pertarungan berlanjut dan Arthur memotong setiap bagian tubuh dari ksatria tersebut sampai akhirnya yang tersisa dari ksatria itu hanyalah puntungan badan dengan kepala. Sambil raja Arthur melanjutkan perjalanannya, sang ksatria berteriak dibelakangnya, “kembali kau pengecut, akan kugigit kau!”

Tidak perlu dikatakan lagi bahwa ksatria itu melakukan penyangkalan. Dia tidak dapat menghadapi kenyataan bahwa dia mengalami kekalahan. Dan walaupun itu adalah contoh humor tentang penyangkalan, tetapi bahaya dari penyangkalan tersebut benar-benar nyata. Jika saya terus menyangkal kenyataan bahwa saya menderita positif HIV, kemungkinan saya tidak akan melakukan tindakan pencegahan dengan menggores jari-jari saya atau hal-hal semacam itu, dan saya dapat melukai atau membunuh orang dengan ganas. Tetapi bahayanya untuk diri kita sendiri ketika kita menyangkal hal seperti itu juga sangat berbahaya dan sangat menyakitkan. Ketika kita menyembunyikan sesuatu untuk waktu yang lama, dan berpura-pura bahwa hal itu tidak ada, hal itu akan membesar dan pada akhirnya akan meledak.

Hidup dengan HIV: Kesia-siaan dari sebuah penyangkalan

Saya telah menyangkal bahwa saya menderita HIV sekitar tiga tahun. Bagaimanapun, dalam tahun terakhir saya di sekolah menengah atas, saya mengalami sakit keras. Penyakit ini mulai menunjukkan gejalanya kepada saya. Sel-T adalah sel darah putih yang melawan infeksi, dan jumlah sel-T yang saudara miliki di dalam tubuh saudara memberitahukan apakah saudara menderita positif HIV atau menderita AIDS. Ketika sel-T saudara turun dibawah 200, saudara diperkirakan menderita AIDS. Lalu, ketika sel-T saya dihitung ternyata jumlahnya ada 213 dan terus menurun. Saya sakit keras dan sangat pucat, dan saya bahkan tidak dapat makan. Saya sudah tidak dapat lagi berpura-pura bahwa penyakit AIDS/HIV ini tidaklah nyata–penyakit ini benar-benar nyata.

Penyangkalan bukanlah lagi sebuah pilihan, jadi saya harus menemukan sebuah cara yang baru untuk berhadapan dengan semua yang saya alami. Hal yang pertama yang saya coba lakukan adalah menyalahkan orang lain. Saya berpikir bahwa saya akan merasa lebih baik apabila ada seeorang yang datang kepada saya dan berkata, “Steven, ini adalah kesalahan saya. Saya minta maaf.” Jadi, pertama-tama saya memutuskan untuk menyalahkan seluruh kaum homoseksual. Sebuah alasan untuk menghindar yang mudah. Tetapi setelah saya memikirkannya, saya menyadari bahwa itu adalah sebuah kebodohan untuk menyalahkan sebuah kelompok masyarakat demi masalah saya. Lalu saya memutuskan untuk menyalahkan Tuhan. Saya tidak sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan pada saat itu. Saya membayangkan jika ada seseorang yang memiliki kuasa atas sebuah keadaan, dia pastilah Tuhan. Jadi saya menyalahkan Tuhan.

Hidup dengan HIV: Kemarahan

Ketika saudara memiliki suatu tempat untuk meluapkan segala penderitaan saudara yang memuncak, tempat itu berubah menjadi kemarahan, dan akhirnya tempat itu berubah menjadi amukan. Jadi saya mulai menghadapi segala sesuatu yang saya jumpai dengan amarah. Kapanpun seseorang berkata sesuatu yang menyinggung saya, saya pasti memarahi mereka. Saya memukul dinding dan menghancurkan kamar saya, dan banyak lagi hal-hal seperti itu yang saya lakukan.

Tetapi saya mengetahui bahwa kemarahan memiliki kemampuan untuk mengendalikan pikiran saudara, dan kemarahan membuat saudara tidak berpikir secara sehat atau rasional. Dan yang terburuk, amarah dapat melukai orang-orang yang saudara cintai. Cara yang lebih baik untuk berhadapan dengan penderitaan ini adalah menangis, karena cara tersebut tidak melukai orang lain, dan cara ini terasa jauh lebih baik.

Pada suatu waktu, saya berada di kamar saya dan saya sangat putus asa. Saya sangat sakit dan kehilangan begitu banyak berat badan. Saya berteriak, memaki Tuhan, memukul dinding di kamar saya, dan ayah saya kemudian masuk ke kamar saya. Dia menutup pintu dibelakangnya. Ayah saya adalah pecandu minuman keras yang telah dipulihkan. Melalui AA dia belajar tentang Kuasa Yang Paling Tinggi, dia belajar untuk mengenal Tuhan. Ayah saya melihat saya dan berkata,” kamu tahu Steve, saya tidak dapat menolongmu. Doktermu tidak dapat menolongmu. Ibumu tidak dapat menolongmu. Kamu sendiri tidak dapat menolong dirimu sendiri. Satu-satunya yang bisa menolongmu sekarang hanyalah Tuhan. ” dan dia berjalan keluar kamar dan menutup pintu.

Hidup dengan HIV: Mencari pertolongan

Dan setelah saya selesai memaki Tuhan saya merasa saya tidak berada di situasi yang tepat untuk meminta pertolongan kepada Tuhan. Tetapi saya tidak punya pilihan. Saya berlutut dan menangis sambil berkata, “baiklah Tuhan, jika Engkau memang ada, tolonglah saya dan saya akan menolongMu. Kemudian, dalam jangka waktu yang sangat singkat, seluruh berat badan saya kembali seperti semula. Jumlah Sel-T saya meloncat naik menjadi 365, yang artinya jumlah yang cukup baik. Dan saya merasa luar biasa. Merasa luar biasa…hanya itu saja. Dan saya berpikir, “baiklah, terima kasih Tuhan. Itu hal yang indah. Selamat tinggal Tuhan.”

Saya lulus dan melanjutkan ke universitas untuk mendapatkan tes penempatan jurusan pada musim panas sebelum tahun ajaran baru. Disinilah saya bertemu dengan teman sekamar saya. Saya tiba di universitas tersebut dan telah selesai menyelesaikan ujian masuk, dan seorang anak beramput pirang yang kira-kira setinggi ini berdiri disana. Dia berkata, ‘hei, kamu terlihat normal. Mau jadi teman sekamarku?” dan saya berpikir, baiklah, kamu tidak…tapi….” Tentu.” Kami menjadi teman sekamar, dan akhirnya kami menjadi sahabat. Saya mengetahui bahwa teman saya adalah seorang Kristen. Saya memiliki pemikiran seperti ini tentang orang-orang Kristen. Bagi saya orang Kristen itu adalah orang-orang yang munafik, suka merendahkan orang lain, dan orang-orang yang suka mengutuk. Itu semua psaudarangan saya mengenai orang-orang Kristen. Tetapi teman sekamar saya ini berbeda.

Dia menderita penyakit Dislexia. Saya memperhatikan ketika dia belajar dan sampai ke saat dimana dia menjadi frustasi—saat dimana saya dapat memukul dinding dan menghancurkan benda-benda–dia berhenti sejenak, menutup matanya, dan berdoa, menarik nafas dan kembali belajar. Momen itu menghantam diriku. Saya berpikir, “bagaimana bisa kamu tidak menghancurkan sesuatu? Kamu harus menghancurkan sesuatu!” hal itu sangat memukau saya bahwa dia mampu melakukan hal itu.

Teman sekamar saya mengundang saya untuk menghabiskan liburan musim semi bersamanya di pantai Daytona. Ketika disana, teman saya berbicara kepada laki-laki yang duduk disebelah kami. Awalnya kami berbicara tentang hal-hal yang umum, sesuatu yang biasa-biasa saja. Lalu teman saya memutuskan untuk membawa pembicaraan tersebut ke topik yang lebih berat dan dalam. Saya tidak ingin mengikuti pembicaraan tersebut. Saya berjuang untuk tidak terlibat. Pasti menyakitkan untuk diketahui bahwa saudara sedang sekarat dalam masa muda saudara. Dan saya tidak ingin membicarakan hal seperti itu dengan orang asing yang ada di pantai., jadi saya lebih baik menghilang dari percakapan itu. Mereka terus berbicara, dan akhirnya percakapan itu sampai kepada suatu titik dimana teman saya mencoba untuk menjelaskan apa yang dia percayai sebagai orang Kristen. Saya selalu punya gambaran seperti apa orang Kristen itu. Tetapi saya sebenarnya tidak tahu apa yang mereka percayai atau mereka pikirkan. Jadi saya merasa lebih baik saya mendengarkan saja apa yang teman saya katakan.

Hidup dengan HIV: Apa yang Tuhan tawarkan

Saya tidak tahu apakah saya dapat menjelaskan hal ini sebaik teman saya menjelaskannya, tetapi dia mengatakan seperti ini: “jelas sekali bahwa saya percaya kepada Tuhan. Dan saya percaya bahwa Tuhan menciptakan kita agar kita memiliki suatu hubungan denganNya. Tetapi kita tidak mau untuk berhubungan denganNya, jadi kita menolak Dia. Penolakan terhadap Tuhan itu adalah pemberontakan—-apakah itu penolakan yang aktif melawan Tuhan atau pasif tidak ada bedanya–firman Tuhan mengatakan bahwa pemberontakan itu adalah dosa. Saya tidak suka dengan kata “dosa”, jadi saya pikir lebih tepat sebagai penolakan terhadap Tuhan saja. Dan karena kita telah melakukan pemberontakan itu dan kita juga diciptakan agar memiliki hubungan denganNya, ada sebuah hukumannya. Hukuman untuk pemberontakan kita adalah kematian, kita mati. Dan ada kematian rohani, kita terpisah dari Tuhan.” Saya berpikir, oh, itu menyenangkan.

Kemudian saya berkata, “Tetapi Tuhan mencintai kita,” dan teman saya berkata, “tetapi Tuhan juga adil. Cinta tanpa keadilan tidak berarti apa-apa.” Hal Itu sangat tidak masuk akal bagi saya. Kemudian dia berkata, “ok, bayangkan tentang seseorang yang paling kamu sayangi di dunia ini, bahkan nyawamu akan kamu berikan kepada orang ini tanpa ragu-ragu. Kemudian bayangkan dirimu menolak orang ini dan tidak melihatnya lagi untuk waktu yang lama. Kemudian suatu hari kamu melihat orang ini yang berjarak hanya 50 yar darimu, dan kamu berlari kepadanya dan membuka tanganmu, tetapi dia memberhentikanmu dan berkata: ‘Tidak, kamu telah menolakku. Ingat?’ sekarang bayangkan kamu menolak Tuhan, sumber kasih terbesar di alam semesta ini.”

Dan saya berpikir, “wow, itu tidak bagus.” Dan dia berkata, “untungnya, hal ini tidak selesai sampai disini. Karena Tuhan sangat mencintai kita dan sangat perduli kepada kita, Dia memutuskan untuk membayar hukuman itu bagi kita. Dia mengutus putraNya, Yesus Kristus, untuk mati dikayu salib menggantikan kita. Dan karena Yesus (rupa Allah dalam bentuk manusia) hidup tanpa dosa, Dia dapat menebus hukuman itu bagi siapa saja. Dia menebusnya bagi kita.”

Dan dia berkata, “Kemudian sesudah kematianNya, pada hari yang ketiga Yesus bangkit dari kematian. Dia telah mengalahkan maut dan menawarkan kepada kita kehidupan yang kekal. Dan kita tidak akan mati, tetapi kita akan meneruskan kehidupan kita dan menghabiskan hidup kita di dalam kekekalan bersama sumber kasih terbesar di alam semesta ini.”

Dan saya berkata, “wow.” “tetapi,” katanya, “walaupun Dia menawarkan hidup kekal dan menebus hukuman kita, jika kamu tidak menerima tawaranNya…, itu terserah padamu.” Saya masih belum jelas tentang hal ini, begitu juga orang asing itu. Jadi teman saya berkata, “ok, bayangkan dirimu sendiri menuruni jalan ini. Kecepatanmu adalah 90 tetapi batas kecepatan sebenarnya hanya 35. Mobilmu melaju dijalanan dan polisi memberhentikanmu dan mendendamu. Untuk membayar denda, kamu harus pergi ke pengadilan hari berikutnya. Ketika kamu berjalan ke ruang persidangan dan menengok ke atas, kamu melihat bahwa hakimnya adalah ayahmu. Dan kamu berpikir, Hey, itu ayahku. Ayahmu melihatmu dan berkata, Steve, apakah kamu melanggar peraturan? Dan kamu berkata, ‘ya.’ Kemudian dia berkata, ‘ok, denda 5 juta rupiah atau dua hari didalam penjara.’ Ayahmu mengetuk palu persidangan dan mengakhiri persidangan itu.

“Karena dia tegas dan adil, dia harus memutuskan hukuman. Tetapi kemudian dia turun dari kursi hakim, melepas jubahnya, merogoh kantongnya dan memberimu 5 juta rupiah. Karena dia mencintaimu, dia akan membayar hukuman itu bagimu. Tetapi kamu harus menerima pembayaran itu. Ayahmu berdiri disana dengan uang 5 juta ditangannya dan berkata ‘ini uangnya.’ Demikian juga, dengan Tuhan kamu bisa berkata, ‘Tidak, Aku akan menghabiskan kekekalan tanpamu.’ Itu adalah pilihan yang kamu buat.

Teman saya mengatakan bahwa cara kita menerima penebusan adalah melalui doa. Dia berkata, “kamu menerima keselamatan Tuhan karena kasih karuniaNya. Tidak ada yang dapat kamu lakukan untuk mendapatkannya. keselamatan itu adalah hadiah dari Tuhan.” Inilah pertama kalinya saya mendengar tentang anugerah. Dia berkata, “keselamatan adalah hadiah yang kamu terima dengan iman melalui doa.” Dan teman saya menawarkan kepada orang asing itu untuk berdoa bersama-sama dengan dia. Dan ketika dia berdoa dengan suara nyaring, saya juga berdoa tapi tanpa bersuara.

Hidup dengan HIV: Menguasai ketakutan

Pada detik itu, hidup saya memiliki psaudarangan baru. Saya tidak harus lagi pergi ketempat tidur setiap malam sambil mengkhawatirkan apakah saya akan hidup esok harinya. Saya tidak lagi memiliki ketakutan akan kematian, karena kematian tidak akan berakhir di kegelapan yang paling kelam. Sekarang, jika saya meninggal saya akan tinggal dalam kekekalan, selamanya, dengan sumber kasih terbesar di alam semesta ini. Hal ini sangat melegakan.

Orang tua saya juga menerima keselamatan tersebut. Mereka juga berdoa kepada Tuhan seperti yang saya lakukan. Dan hidup mereka juga memiliki psaudarangan yang benar-benar baru. Dan sangat menakjubkan bahwa mereka mengizinkan saya melakukan perjalanan yang terpisah dari mereka, karena mereka tahu bahwa saya hanya mempunyai enam bulan untuk hidup. Dan dapat saudara bayangkan betapa sulitnya untuk mereka bahwa mereka hanya dapat berdiri dengan tangan disamping dan hanya dapat melihat putra mereka meninggal di hadapan mereka. Tidak ada yang dapat mereka lakukan. Tetapi satu-satunya alasan yang membuat mereka mampu menerima kenyataan itu, dan satu-satunya alasan saya dapat mengatasi masalah ini, adalah karena kami memiliki Yesus Kristus di dalam hidup kami masing-masing.

Hidup dengan HIV: Mengenal Tuhan

Dapatkah saya memberikan saudara kesempatan untuk menerima penebusan Tuhan bagi saudara? Jika saudara memiliki obat untuk AIDS, saya yakin saudara akan menawarkannya kepada saya. Saya tahu bagaimana mendapatkan kekekalan, itu adalah hadiah dari Tuhan. Jadi, saya mencoba untuk menawarkan kekekalan itu kepada saudara. Jika saudara mengalami sesuatu yang tidak dapat saudara atasi sendiri, dan saudara ingin memiliki seseorang yang selalu siap sedia untuk saudara dan membantu saudara ketika seluruh dunia menendang saudara dan menusuk saudara dari belakang, kalau begitu saya meminta agar saudara berdoa bersama saya sekarang. Ini bukanlah ungkapan-ungkapan sihir atau mantera. Dan ini bukanlah perjalanan emosi yang besar atau pemikiran. Sebaliknya, ini adalah permulaan untuk memulai sebuah hubungan dengan Tuhan. Dan seperti hubungan pada umumnya, hal ini membutuhkan waktu dan usaha. Tetapi saya mendorong saudara: jika saudara merasa saudara sangat membutuhkan ini, jangan lewatkan kesempatan ini. Keselamatan ini gratis.

Jadi saya akan berdoa. Doa tidak ada hubungannya dengan menutup mata saudara atau menundukkan kepala saudara atau melipat tangan saudara atau berteriak “Haleluya!” tidak seperti itu. Doa adalah sikap hati saudara. Berdoa dengan sikap hati yang benar seolah-olah berkata seperti ini kepada Tuhan, “Tuhan, saya telah memberontak. Saya telah menolakmu. Dan saya ingin kembali kepadaMu dengan menerima penebusanMu.” Jika saudara merasa bahwa saudara memerlukannya, ucapkanlah doa ini sekarang juga. “Tuhan Yesus, saya membutuhkanMu. Terima kasih karena Engkau rela mati di kayu salib bagi saya. Saya memintaMu untuk masuk kedalam kehidupan saya dan jadikanlah saya seperti orang yang selama ini saya inginkan. Amin.”

Sekarang, jika saudara telah mengucapkan doa itu dengan tulus. Saudara telah memulai sebuah hubungan yang luar biasa yang pernah saudara miliki—hubungan bersama Tuhan. Dan hubungan ini tidak berhenti ketika kita telah berdoa. Hubungan bersama Tuhan adalah sebuah proses. Artinya kita harus tetap percaya kepada Tuhan setiap hari., mencoba untuk tidak melakukan yang sebenarnya tidak saudara inginkan atau yang kelihatannya bagus, tetapi melakukan apa yang Tuhan minta dari saudara. Saya pernah mendengar seseorang berkata seperti ini kepada saya, “Kekristenan bermanfaat bagimu dan itu luar biasa. Bisakah agama lain bermanfaat bagi orang lain?” itu pertanyaan yang bagus. Saya percaya Tuhan hanya memberikan satu jalan agar kita bisa datang kepadaNya—melalui kematian Yesus di kayu salib—walaupun ada unsur kebenaran pada agama-agama lain. Mereka kebanyakan adalah kode-kode moral–“lakukanlah ini tujuh kali sehari dan saudara akan lebih dekat kepada Tuhan.” Tetapi jika saudara mencoba bekerja untuk Tuhan, berapa banyak pekerjaan yang cukup bagi Tuhan? Bagaimana saudara tahu bahwa saudara telah mencapai ukuran tersebut?

Saya pikir disitulah dimana kekristenan menemukan kebenarannya: dalam anugerah Tuhan. Karena kita tahu bahwa kita tidak akan pernah bisa mencapai kesempurnaan Tuhan, kita bisa bergantung kepada pengampunan Tuhan. Tujuannya adalah agar kita tetap berjalan di jalan Tuhan, walaupun kita sering berbuat salah. Saudara melakukan kesalahan, tetapi saudara terus maju, saudara terus mengerjakan pekerjaan Tuhan, mempercayai anugerah Tuhan. Saudara berdoa. Saudara membaca alkitab. Saudara akan menemukan apa yang Tuhan inginkan dari saudara. Suatu hari saudara akan memperoleh kedamaian. Kedamaian ini tidak akan terjadi sampai saudara kembali ke sorga, kemudian kedamaian akan ada untuk selamanya.

Steve Sawyer meninggal karena gagal hati yang disebabkan hepatitis C pada 13 Maret 1999. Semoga kesaksian pribadinya mendorong saudara untuk menerima Yesus seperti yang Steve pernah lakukan. Dalam hari-hari terakhir Steve, dia berkata bahwa dia ingin berbicara di “satu universitas lagi.” Mengapa? “jika saya harus memiliki penyakit ini agar satu orang dapat mengerti bahwa mereka dapat memiliki sebuah hubungan bersama Kristus, maka itu sangat berharga. Dalam cahaya kekekalan, itulah masalahnya.

Kita dapat memiliki kehidupan kekal dengan menerima Yesus. Kita tidak masuk ke sorga karena berbuat baik. Hidup yang kekal adalah sebuah hadiah bagi orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Alkitab mengatakan…..

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

“Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.”(Yesaya 53:6)

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” (Yohanes 5:24)

            “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” (1 Korintus 15:55)

Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal. (1 Yohanes 5:11-13)

Apapun yang kini saudara alami, jangan pernah mengandalkan kekuatanmu sendiri & mencoba menolong dirimu sendiri. ada satu pribadi yang selalu setia memperhatikanmu dalam keadaan apapun. Dia Yesus yang telah rela berkorban menebus dosa kita & menyembuhkan kita dari sakit-penyakit yang kita alami, Dengan kuasa dari bilur-bilurnya-Nyalah kita disembuhkan. Saat ini, berserulah kepada-Nya, bawalah setiap kuk yang membelenggu saudara. Maka, Ia akan memberikan kepadamu Kelegaan dan Damai Sejahtera.

Jadilah Kuat, Sebab Ia menciptakan kita dengan sebuah rancangan dan tujuan yang besar….

Tuhan Yesus Memberkati ^_^

Satu Tanggapan

  1. Reblogged this on joeurnaly .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: