Feeling Dan Filler Dalam Musik


Beberapa dari kita mungkin sering mendengar istilah “feeling” dalam bermusik. Ketika seseorang ditanya “koq bisa anda langsung tahu chord-nya? koq bisa anda langsung tahu not-nya?” Dan mereka menjawab “by feeling“. Pengertian feeling ini sebenarnya tidak jelas. Beberapa pendapat seperti ini :

1. Untuk lagu yang sudah pernah didengar, ia tahu jelas chord apa yang dimainkan, not apa yang dibunyikan. Sama seperti kita melihat lampu lalu lintas dan dengan mudah kita bisa menyebutkan itu adalah warna merah, kuning, hijau. Kira-kira seperti itu.
2. Untuk lagu yang ia belum pernah dengar, ia dapat mengira-ngira mau memakai chord apa untuk bagian ini, dan chord apa untuk bagian itu.
Tapi apapun itu, “feeling” adalah kemampuan bermain dengan baik, tanpa perlu partitur. Kabar baiknya adalah, feeling bisa dipelajari. Hanya memang ada orang-orang yang cepat, ada yang lama. Banyaklah mendengar. Banyaklah bermain. Tapi yang paling penting : banyaklah bermain sambil mendengar. Sama seperti ketika anda pertama kali diberitahu bahwa lampu lalu lintas adalah merah, kuning, dan hijau, dan otak anda butuh merekamnya dengan mata sampai hafal, seperti itulah chord dan nada, otak anda butuh merekamnya dengan telinga, dan itu harus terus dilakukan sampai telinga anda hafal.

Selain feeling, ada juga istilah filler. Filler adalah not-not yang sengaja dibunyikan tapi bukan merupakan not dari badan lagu itu sendiri, dengan tujuan “mempercantik” lagu. Tambahkan seperlunya. Tidak perlu terlalu banyak sehingga jemaat sulit konsentrasi menyanyi. Bagaimanapun, anda bermain supaya jemaat menikmati HadiratTuhan, bukan menikmati permainan anda.

Filler dapat dengan mudah anda buat ketika telinga anda sudah hafal bunyi setiap nada. Jika belum, mungkin akan lebih sulit menciptakan filler. Mintalah bantuan pada orang-orang yang lebih berpengalaman soal ini. Tentu kreasi setiap orang berbeda-beda, dan anda bebas menentukan filler seperti apa yang paling cocok dengan gaya bermain anda. Filler yang terlalu sulit akan mengganggu permainan. Belum hafal chord, sudah harus dipusingkan dengan filler. Ketimbang mengacaukan ibadah, lebih baik pilih aransemen sesimpel mungkin dalam kapasitas anda. Atau memang jika terpaksa, bermainlah chord saja. Kita sedang berbicara dalam konteks musik pengiring, bukan musik pertunjukan. Walaupun filler itu baik, tapi tidak mutlak harus ada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: