Sudah Selesai

Berkatalah Ia: “sudah selesai. ” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.- Yoh 19:30

Sekiranya boleh, Ia ingin melalukan cawan penderitaan itu.

Cawan itu terlalu pahit untuk diminum.

Pernahkah Anda bayangkan bangsa yang semula berteriak, “Hosana. Hosana,”

sekarang berteriak, “Salibkan Dia. Salibkan Dia!”

Mereka yang pernah disembuhkan,

mereka yang pernah melihat mujizat yang mengagumkan,

mereka yang pernah mendengar pengajaranNya dan menjadi tercengang,

namun sekarang mereka berteriak menuntut kematianNya.

Tak ada satu murid pun yang bisa diharapkan.

Mereka cepat-cepat angkat kaki dan menyembunyikan diri ketika ancaman datang.

Satu murid yang makan bersama sekarang memberikan ciuman pengkhianatan.

Satu murid yang sangat dekatpun terpaksa menyangkal Dia.

Ia benar-benar ditinggalkan sendiri.

Itu tidak seberapa dibandingkan ketika BapaNya memalingkan wajah

dan membiarkan Dia menderita sendiri akibat dosa yang harus Ia tanggung.

Sunyi. Sepi. sendiri.

Itulah yang dirasakan Yesus saat tergantung di atas kayu salib.

Cawan penderitaan tetap diminum.

Tak disisakannya sedikitpun.

Meminum cawan itu sampai satu kalimat terucap, “sudah selesai.”

Tak pedulikan rasa sakit.

Tak hiraukan rasa sepi yang menyergap.

Tetap konsisten dengan rencana BapaNya meski ejekan dan tawa sinis bergema.

Ia menyelesaikannya karya keselamatan besar dengan begitu sempurna!

Yesus mengakhiri dengan sempurna.

Paulus mengakhiri pertandingan dengan baik.

Stefanus tetap mempertahankan iman walau dihujani dengan batu.

Itulah makna perkataan “sudah selesai” yang terucap di atas kayu salib.

Kekristenan sebenarnya juga seperti itu.

Sayangnya banyak dari antara kita yang gagal.

Kita tidak bisa mengakhiri hidup kita dengan baik.

Kita meninggalkan lintasan pertandingan.

Kita tidak bisa memelihara iman dan larut dalam gelombang dunia. 

Seharusnya kita ingat bahwa sebelum kita mengakhiri pertandingan dengan baik

dan menyelesaikan pertandingan iman,

maka tidak akan ada mahkota yang disediakan bagi kita.

Itu sebabnya renungan di suasana Paskah ini mengingatkan

agar kita terus mempertahankan iman kita dan konsisten dalam melakukan kehendak Allah.

jika kita sudah meninggalkan lintasan,

Tuhan memanggil kita untuk kembali ke lintasan lagi

dan melanjutkan pertandingan sampai garis akhir

dan kata “sudah selesai” pun terucap.

sumber: renungan harian spirit 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: