Be a God Chaser, not His Shadow Chaser

Ada lelucon diantara para jombloers, “Kalau mau pilih pacar harus pilih yang punya kepribadian”. Maksud lo? “Itu loh yang punya mobil pribadi, rumah pribadi, apartemen pribadi, supir pribadi”…dan pribadi-pribadi yang lain yang bukan bicara tentang pribadi yang sesungguhnya.
Pribadi yang dibicarakan di humor tsb adalah kepemilikan, seperti benda,
atau harta apa yang dimiliki, dan bukan siapa pemiliknya sesungguhnya.

Dan nilai-nilai seperti itu sering juga kita bawa dalam relationship kita dengan Tuhan. Kita mencari apa yang dimiliki Tuhan.
Bukan mencari siapa Tuhan sesungguhnya. Kita mencintai atribut yang dimiliki Tuhan, bukan esensi dari Tuhan yang sesungguhnya. Kita mencari apa yang dimilikiNya, bukan siapa pemilikNya. Bener kan, nggak beda dengan humor di atas. Redaksi kalimatnya bisa diubah menjadi, “Kalau mau memilih Tuhan yang akan kita sembah, pilihlah yang punya berkat besar, yang punya kebaikan, yang bisa kasih rumah, mobil, promosi karir, dll.”

Saya mengibaratkan (menurut saya lho..) semua yang mampu Tuhan berikan dalan hidup kita seperti sebuah bayangan. Dalam imajinasi saya, God has shadow. But it just a shadow, not God Himself.

Kita mengatakan (saat kita diberkati) bahwa Tuhan itu baik.
Tapi ‘kebaikan’ yang dinyatakanNya, bukanlah Tuhan. Bahaya sekali bila komitmen mengikut Tuhan didasarkan atas apa yang Tuhan miliki.
Kita akan gampang pindah ke lain hati. Pindah ke lain Tuhan. Kenapa?
Karena bila kita tidak melihat Dia ‘baik’ dalam hidup kita (menurut perspektif kita), maka kita akan meninggalkan Dia, dan memilih Tuhan yang lain.
Bila kita melihat sepertinya Dia lambat menjawab doa, maka kita akan mencari Tuhan yang lain, yang lebih cepat menjawab doa-doa yang kita inginkan. Bila kita melihat sepertinya Tuhan nggak cepat-cepat memberkati kita, maka kita mulai berpikir mencari Tuhan yang lain.
Padahal bedanya rancangan-rancangan Tuhan dengan rancangan-rancangan kita bagaikan tingginya langit dari bumi. Bagaimana mungkin kita mengukur apakah Tuhan baik atau tidak dengan rancangan kita yang sangat tidak sempurna?
Tapi walaupun berbeda dengan rancangan kita, yang jelas Tuhan berjanji bahwa Dia merancangkan rancangan-rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan, untuk memberi kepada kita hari depan yang penuh harapan.

SHADOW CHASER
Tahukah teman-teman bahwa yang suka mengejar bayangan adalah anak-anak?
Yang suka bermain dengan bayang-bayang adalah anak-anak?
Orang dewasa tidak lagi bermain seperti itu.

Shadow chaser adalah kanak-kanak rohani, sementara God chaser adalah orang-orang yang dewasa rohani. Melihat anak-anak bermain atau berlari mengejar bayangan adalah pemandangan yang lucu.
Tapi bila orang dewasa yang melakukannya, …siap-siap dikatakan ‘crazy’. Hahaha…

Karakter anak-anak yang menonjol adalah bila meminta sesuatu harus segera mendapat. Dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Anak-anak yang keinginannya tidak segera dipenuhi akan menangis sejadi-jadinya. Nggak peduli sikon orangtuanya, yang penting keinginannya diwujudkan.

Anak-anak juga mengukur apakah seseorang itu mengasihinya atau tidak melalui pemberian dan hadiah. Dan anak-anak tidak mengerti bahasa penundaan. Bagi anak-anak, penundaan bukanlah ekspresi cinta.
Anak-anak mengejar hadiah apakah itu mainan, permen, main ke mall.
Itu sebabnya anak-anak gampang ditipu dengan benda-benda yang indah.
Berapa kali modus operandi penculikan atas anak-anak adalah dengan menawarkan permen, coklat, es krim, dan segala yang indah-indah menurut pemikiran anak-anak. Karena anak-anak mengejar hadiah.
Dimata anak-anak, kasih itu adalah “HADIAH”.

CHASING AGAPE
Mengejar Tuhan berarti mengejar Agape.
Agape is Unconditinal love. Mengejar kasih yang tak bersyarat. Kasih yang didasarkan bukan atas apa yang dapat (orang yang dikasihi) berikan. Hidup kitapun akan berubah karena tidak lagi mendasarkan perbuatan kita atas kasih ‘ukuran’ dunia. Kita mengasihi Tuhan bukanlah didasarkan apa yang dapat Tuhan berikan. Kita mengasihi Tuhan secara mutlak, karena Dia memang Tuhan. Kita tidak mengejar bayang-bayangNya.
Kita mengejar Tuhan, “I Am Who I Am”.
Nggak heran kalau Sadrakh, Mesakh dan Abednego bisa berkata, “Sekalipun Allah yang kami sembah tidak melepaskan kami, kami tidak akan meyembah dewa lain, patung tuangan yang didirikan Raja Nebukadnezar”.
Karena ke 3 anak muda yang luar biasa ini, mengenal siapa Tuhan yang mereka sembah, The Great I Am, yang tidak akan mereka tukarkan dengan apapun. Bahkan ketika sepertinya Tuhan tidak menolong mereka, ketika sepertinya Tuhan membiarkan mereka, mereka nggak peduli.
Sekali Yesus tetap Yesus. They are God chaser.
Ketika Tuhan memperkenalkan diriNya sebagai “I AM WHO I AM”, saya percaya itu juga sebagai penanda kehendakNya bahwa Tuhan ingin disembah sebagai diriNya, bukan atas dasar kepemilikanNya. Tuhan tidak pernah memperkenalkan diriNya sebagai “I AM WHICH I HAVE”

Daud memberikan contoh yang luar biasa sebagai seorang God chaser. Kenyataan-kenyataan pahit yang dialaminya sebelum dikokohkan bangsa Israel menjadi raja, tidak menggoyahkan kasihnya kepada Tuhan. Merendahkan diri serendah-rendahnya saat berpura-pura menjadi gila di hadapan raja lain, tidak membuat Daud pahit hati dan mengutuki Tuhan.
Di saat-saat yang pahit dalam hidupnya, Daud tetap mengejar Tuhan
dengan begitu giat, seakan-seakan sedang mengalami kelimpahan berkat dan kebaikan.

Banyak orang akan mengejar Tuhan dengan giat, seperti yang Daud lakukan, tetapi bukan sebagai pengejar Tuhan, melainkan karena mengejar berkat-berkatNya. Tetapi begitu melihat apa yang dialami tidak seperti yang dibayangkan, mulai perlahan-lahan meninggalkan Tuhan.
Itu bukan God chaser, itu hanyalah His shadow chaser.

Hari-hari ini, dalam keadaan dunia yang tidak menentu, mungkin kita diijinkan mengalami hal-hal yang tidak enak, hal-hal yang tidak kita harapkan. Milikilah mental God chaser yang sesungguhnya, dimana kasih, iman dan pengharapan kita tidak digoyahkan oleh apa yang kita lihat di depan mata kita.
Percayalah a happy ending story adalah bagian kehidupan orang percaya kepada nama Yesus.

Saya lagi seneng-senengnya ngeliat performance Danny Gokey
di American Idol 2009. Menarik sekali apa yang menjadi motto hidupnya.
An unshakeable faith is a faith that has been shaken.
Badai, goncangan boleh terjadi. Tetapi tidak berhasil menggoncangkan iman, pengharapan dan kasih kita kepadaNya. Malah semakin bertambah-tambah.

Because we are a God chaser.

Yes, we are “I AM WHO I AM” chaser.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: