Arti Hidup yang Memberi (Bagian 2)

Hari ini kita akan melanjutkan pelajaran/pengajaran ttg Arti Hidup yg Memberi (Bagian 2). Kiranya renungan ini menjadi berkat buat rekan2 muda kristen .

Arti Hidup yg Memberi:

1. Memberi adl Mengorbankan Sesuatu

Memberi adl tindakan mengorbankan sesuatu. Ketika kita mengorbankan sesuatu itu berarti kita memberi sesuatu yg sangat berharga yg ada pada kita. Dari sudut ekonomi, memberi adl kehilangan/kerugian dan juga suatu pengorbanan. Tanpa suatu motivasi yg didasari oleh rasa sayang/kasih maka umumnya manusia sulit untuk memberi. Semakin kita menyayangi/mengasihi seseorang, maka semakin besar dan semakin hebat pula pengorbanan yg kita berikan. Yesus berkata: ”Jadi jika kamu yg jahat tahu memberi pemberian yg baik kpd anak2mu, apalagi Bapamu yg di sorga! Ia akan memberikan yg baik kpd mereka yg meminta kpdNya” (Mat.7:11).

Karena Allah demikian mengasihi dunia ini, maka Ia memberikan anakNya, Yesus untuk menyelamatkan manusia (Yoh.3:16). Jadi memberi itu adl mengorbankan sesuatu yg sangat berharga.

Contoh:

a. Abraham (Kej.22:1-18).

Abraham telah mengorbankan sesuatu yg sangat berharga dalam hidupnya, yaitu Ishak, seorang anak yg ia nantikan berpuluh-puluh tahun! Abraham lulus tes dlm hal ketaatannya kpd Allah ketika ia diuji utk mempersembahkan anaknya (Ishak) sbg korban. Abraham tunduk kpd perintah Allah, tanpa mempertanyakan kenapa, utk apa dan bagaimana mungkin Allah hrs menyuruh ia harus mengorbankan anaknya yg sudah ia nanti2kan.

Saya dapat mengerti perasaan Abraham pada waktu itu. Abraham sangat mengasihi anaknya, Ishak. Namun kasih Abraham kpd Allah jauh melebihi segalanya, bahkan kpd anaknya sekalipun, sehingga ia berani mengorbankan sesuatu yg sangat berharga. Namun Alkitab mencatat bahwa Abraham lulus tes, dan ketika ia hendak memotong/membunuh anaknya utk dijadikan korban persembahan kpd Allah, maka Allah berfirman supaya ia jangan membunuh anaknya, Ishak. Dan Allah secara ajaib telah menyediakan domba jantan sbg pengganti korban (Kej.22:11-13).

b. Janda Sarfat

Seorang wanita yg taat kepada perintah nabiNya, yaitu Elia. Kita dapat membaca kisah ini dalam 1 Raj.17:7-24. Di sana diceritakan, bahwa pada masa itu, di Sarfat, sedang terjadi bala kelaparan/krisis ekonomi. Pada waktu itu, hujan tidak turun2 dalam waktu yg sgt lama sekali. Ketika Nabi Elia menghampiri ia di pintu gerbang Kota Sarfat, maka Elia berkata kepada Janda Sarfat ini: “Cobalah ambil bagiku sepotong roti”(1 Raj.17: 11).

Lalu apakah respon/jawaban si Janda Sarfat ini?

Janda Sarfat ini berkata: “Demi TUHAN, Allahmu yg hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayang dan sedikit minyak dalam buli2. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati” (1 Raj.17:12).

Kemudian…ketika Janda Sarfat beriman dan taat kepada perkataan Nabi Elia bhw tepung dalam tempayan itu tidak akan habis2 dan minyak dlm buli2 itu tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas bumi, maka Janda Sarfat itu bertindak : “LALU pergilah ia dan membuatkan roti bagi Nabi Elia dan keluarganya” (Baca 1 Raj.17:13-15).

Selanjutnya apa yg terjadiAlkitab menulis: “Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli2 itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yg diucapkanNya dgn perantaraan Elia.” (1 Raj.17:16).

Rekan2 muda, sulit dibayangkan! Bagaimana mungkin, pada zaman sekarang ada orang yg mau memberikan tepungnya yg hanya segenggam kepada orang lain di tengah krisis ekonomi dalam rumah tangganya. Bahkan, dikatakan Alkitab tadi bahwa setelah memakan persediaan tepungnya, maka keluarga janda ini akan mati bersama anaknya. Janda Sarfat ini telah melakukan suatu pengorbanan yg sangat berharga, yaitu dgn mentaati nabiNya, Elia utk memberikan makan meskipun ia dan keluarganya akan menghadapi maut!!

Hukum Dunia mengatakan: Hemat pangkal kaya…Hemat…Jangan beri kalo belum untung…bukankah demikian?! Tapi Hukum Allah mengatakan: Beri, Ulurkan dgn melimpah, maka kau akan berkelimpahan juga. Itu sebabnya:….

Alkitab/Hukum Allah berkata: Ada yg menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat diberi kelimpahan” (Ams.11:24-25a).

Alkitab/Hukum Allah berkata: “Berilah dan kamu akan diberi: Suatu takaran yg baik, yg dipadatkan, yg digoncangkan dan yg tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yg kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Luk.6:38).

Rekan2 muda Kristen, Janda Sarfat ini menikmati kelimpahan berkat & anugerah Allah karena pengorbanan dan ketaatannya kepada Firman Tuhan yg diucapkanNya melalui perantaraan Nabi Elia. Ketaatan melalui pengorbanan akan“membuka” berkat dan anugerahNya yg melimpah. Inilah saat Mujizat terjadi, karena Allah telah berkarya!! Halleluyah!

Jadi, benar…memberi itu adl mengorbanan sesuatu yg sangat berharga dari hidup kita. Tapi Allah tidak berdiam diri karena setiap org yg berkorban dlm memberi maka ia akan balasan yg baik dari Allah juga.

2. Memberi adl Tindakan yg Mulia

Itu sebabnya Ams.3:9-10 berkata: ”Muliakanlah TUHAN dgn hartamu dan dgn hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung2mu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggur.”

Jadi, memberi adl tindakan yg mulia. Dimana pun manusia berada, maka utk melihat org yg patut dihormati dan menjadi org2 besar, maka salah satu pengukur kehidupan mereka adl dari pemberian mereka kpd org2 di sekelilingnya.  Nama2 ini mendatangkan semacam emosi yg mendalam bg setiap kita: Mother Theresa, Nelson Mandella, dll….tentunya mereka terkenal karena apa yg telah mereka berikan dlm segala kemampuan yg ada pada mereka. Mereka mulia di mata org2 karena apa yg telah mereka beri.

Contoh yg paling menarik dan berkesan dlm hidup saya adl…

WARREN BUFFETT…

Rekan2 muda kristen juga bisa membaca biografi ttg Warren Buffett dihttp://en.wikipedia.org/wiki/Warren_Buffet

Dalam artikel ini saya membaca pada tahun 2006, Warren Buffett ini telah menyumbangkan secara amal/sukarela uangnya kpd yayasan sosial (Bill & Melinda Gates Foundation) sebanyak 83% dari seluruh kekayaannya! Ia juga bahkan dicatat sbg salah satu dari ”100 orang yg Paling Berpengaruh di Dunia” Luar biasa!! Gaya hidup Warren Buffet ini dijuluki gaya hidup ”Philanthropist”.

Kamus Online Internet-Wikipedia, menyebut Gaya Hidup Philanthropist, yaitu suatu perbuatan yg suka/gemar utk menyumbangkan uang, barang2, waktu serta tenaga utk mendukung kegiatan2 yg bersifat sosial. (lihat kamus elektronik online di http://en.wikipedia.org/wiki/Philanthropy

Hmm, di dunia ini ternyata masih ada juga yg gaya hidupnya suka memberi dgn cara yg menakjubkan. Luar biasa!!

Memberi merupakan tindakan yg sangat mulia. Mulia di hadapan Allah dan mulia di hadapan manusia. Karena memberi adl tindakan mulia, maka org2 yg memberi pasti akan hidup dalam berkat, kebahagiaan dan kelimpahan dari Allah (Ams.11:24-25Kis.20:25Luk.6:38).

3. Memberi adl Ungkapan/Tindakan Ucapan Syukur

Itu sebabnya Mzm.107:22 berkata: ”Biarlah mereka mempersembahkan korban syukur, dan menceritakan pekerjaan2Nya dgn sorak sorai.”

Mzm.116:17 berkata: ” Aku akan mempersembahkan korban syukur kepadaMu, dan akan menyerukan nama TUHAN.”

Ibr.13:15-16 berkata: ”Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kpd Allah, yaitu ucapan bibir yg memuliakan namaNya. Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan sebab korban2 yg demikianlah yg berkenan kpd Allah.”

Jadi, memberi adl ungkapan/tindakan ucapan syukur kita kpd Allah. Ketika kita memberi bantuan dan memberi hal2 yg baik kpd Allah dan sesama, maka FirmanNya katakan bhw hal2 inilah yg disebut korban2 syukur yg berkenan kpd Allah (Ibr.13:15-16). Memberi dgn ungkapan syukur merupakan cara yg terbaik bg kita untuk mengarahkan hidup kita kpd fokus yg benar bahwa apa yg telah kita terima: uang, kemampuan, talenta, keahlian, dll tersebut adalah berasal dari Allah, sehingga kita wajib memberi kembali dgn rasa syukur atas semua karya dan anugrahNya dalam hidup kita.

Memberi dgn ungkapan syukur juga mengingatkan kita akan berharganya kehadiran Tuhan utk selalu memenuhi dan mencukupkan segala kebutuhan kita. Memberi dgn ungkapan syukur juga melepaskan kita dari rasa kuatir akan kehilangan sesuatu atau berkurangnya harta milik kita sehingga kita selalu percaya Allah adl Allah yg Menyediakan.  Memberi dgn ungkapan syukur juga menyegarkan kembali hubungan kita dgn Allah dan dgn org di sekeliling kita sehingga kita tetap memiliki hati yg memberi kpd Allah dan kpd sesama manusia.

4. Memberi adl Tindakan Ketaatan

Memberi bukanlah sesuatu yg hanya kita akan lakukan bila kita dalam suasana senang, gembira, bahagia atau dalam keadaan yg baik2 saja atau pada waktu kita dalam keadaan ingin memberi ketika lagi memiliki banyak uang utk diberi/disumbangkan. Memberi adl suatu perintah/Firman Tuhan. Standar Alkitabiah (standar Allah) ttg memberi, yaitu memberi dgn murah hati (2 Kor.8:1-3Mat.10:7-8Luk.6:30), memberi yg terbaik (Mrk.12:43b-44,Mat.10:10-42), memberi melampaui kemampuan (2 Kor.8:3b), memberi dgn kerelaan hati/ikhlas (1 Taw.29:92 Kor.9:7aRm.12:8Kel.35:5), memberi dgn sukacita (2 Kor.9:7b), memberi dgn tidak karena terpaksa (Kel.25:22 Kor.9:7b), memberi dgn iman (Ibr.11:6Ibr.11:4), memberi dgn tidak menimbang-nimbang/memperhatikan keadaan atau masalah (Pkh.11:4), memberi dgn motivasi kasih (1 Kor.13:3), memberi tanpa mengharap balasan/cuma2 (Mat.10:8), memberi dgn diam2/tidak pamer (Mat.6:3-4) dan masih banyak lagi…ini semua tentunya merupakan perintah/Firman Tuhan yg harus dilaksanakan oleh setiap org percaya yg dilakukan dgn ketaatan.Karena memberi adl Tindakan Ketaatan, maka seluruh kehidupan kita haruslah dibangun di dasar ketaatan kepada FirmanNya (Mat.7:24-25).

5. Memberi adl Tindakan Iman

Memberi adl Tindakan Iman. Firman Tuhan katakan bhw tanpa iman manusia tidak mungkin berkenan kpd Allah (Ibr.11:6). Jadi seluruh pergerakan dan dinamika kehidupan kita adl harus berdasarkan iman. Iman adl mempercayai firmanNya dan bergerak di atas dasar firmanNya yg merupakan dasar bagi kita utk berharap dan membuktikan hal2 yg belum kita alami/kita liha

Hal ini mengajarkan kepada kita pentingnya iman ketika kita memberi. Memberi itu baik, tapi jika memberi itu didasari dan bekerjasama seiringan dgn iman, maka perbuatan memberi itu menjadi sempurna (Yak.2:22).

Jadi apapun bentuk pemberian kita: persepuluhan, persembahan kolekte, korban ucapan syukur, persembahan utk pembangunan gereja, sumbangan sosial kemanusiaan, tenaga, waktu, perhatian, kasih sayang/cinta, talenta, keahlian, dll…maka ini semua harus diberikan dgn motivasi, dasar dan dinamika suatu iman yg hidup.

Contoh:

a. Habel

Karena imanlah maka Habel telah mempersembahkan korban yg lebih baik dari Kain. Dgn jalan itu Habel memperoleh kesaksian bhw ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya (baca Ibr.11:4). Jadi pemberian persembahan korban Habel diterima dan berkenan adl karena iman.

b. Abraham

Karena imanlah maka Abraham juga rela memberikan persembahan korban kpd Allah, yaitu anaknya (Ishak)..namun Abraham lulus ujian iman dari Allah ( baca Ibr.11:17-19Kej.22:1-18).

c. Saksi2 Iman / Tokoh Iman

Alkitab mencatat bhw mereka ini oleh karena imannya rela memberikan nyawanya (hidupnya) bagi Tuhan sehingga mereka rela diejek, didera, dibelenggu, dipenjara, dilemparai, digergaji, dibunuh, menggembara dgn pakaian yg sederhana, menderita kekurangan, mengalami kesesakan dan siksaan. Mereka disebut juga Martir (baca Ibr.11:36-37).

Jadi, memberi adl tindakan iman…..

6. Memberi adl Ungkapan/Tindakan Kasih

Memberi pada dasarnya adl ungkapan/tindakan kasih. Ketika kita mengasihi seseorang, kita akan memberi kepada orang tersebut ”sesuatu”. Bayangkanlah sepasang kekasih, seorang ibu yg mengasuh anak/bayinya, seorang guru yg mendidik muridnya, seorang suami yg mengasihi isterinya, seorang pahlawan bangsa yg berjuang demi negaranya, seorang yg menolong yg org lain yg terkena kecelakaan lalu lintas, mengunjungi org yg ditimpa kemalangan dan dukacita, dll… Hal ini telah mengajarkan dlm kehidupan kita bahwa ketika kita memberi sesuatu: uang, tenaga, waktu, perhatian, cinta kasih, keahlian/kemampuan, jiwa dan raga..maka disinilah akan nampak wujud ungkapan kasih.

Ketika Allah mengasihi dunia, maka Ia telah memberikan AnakNya yg tunggal (Yoh.3:16). Jadi kasih itu bukan hanya sbg sikap, tapi juga membutuhkan ungkapan/tindakan memberi dan berkorban.

Contoh:

a. Wanita yg Berdosa/Berzinah (Luk.7:36-50)Dalam Alkitab diceritakan bhw wanita ini masuk ke rumah seorang Farisi dimana Yesus sedang diundang perjamuan makan. Ketika wanita ini mendengar bahwa Yesus ada di rumah seorang Farisi ini, maka wanita masuk  dan membawa buli2 pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia membasuh kaki Yesus dgn air matanya yg berceceran dan menyekanya dgn rambutnya lalu meminyaki/mengurapi Yesus dgn minyak wangi.

Wanita ini menyadari hidupnya di masa lampau, bhw ia adl seorang berdosa/pelacur. Tetapi saat ia datang kpd Yesus, maka ia datang dgn suatu penyesalan, pertobatan dan mempersembahkan/memberi yg terbaik dari dirinya bg Yesus.

Melihat perbuatannya ini maka Yesus menghargai/memuji perbuatan wanita ini di hadapan Petrus, Org Farisi dan org yg ada di rumah tersebut, sehingga Yesus berkata: ”Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kakiKu, tetapi dia membasuh kakiKu dgn air mata dan menyekanya dgn rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kakiKu. Engkau tidak meminyaki kepalaKu dgn minyak, tetapi dia meminyaki kakiKu dgn minyak wangi. Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yg banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yg sedikit diampuni, sedikit juga berbuat kasih” (Luk.7:44-47).

Anda lihat! Perhatikan, bhw Yesus memuji/menghargai perbuatan dan pemberian dari wanita ini. Yesus memuji bhw wanita ini telah banyak berbuat kasih. Pemberiannya adl ungkapan kasih, dan oleh karena pemberiannya didasari oleh kasih maka dosanya pun telah diampuni oleh Tuhan Yesus.

Jadi memberi adl ungkapan/tindakan kasih. Ini mendatangkan pujian, penghargaan dan kasih dari Allah dan juga manusia.

b. Orang Samaria (Luk.10:25-37)

Perbuatan org Samaria ini sungguh mulia. Ungkapan/Tindakan kasihnya terbukti ketika ia menolong seorang yg telah habis dirampok, dipukuli, dan ditinggalkan setengah mati. Org Samaria ini menolong ia dgn membalut luka2nya, menyiraminya dgn minyak dan anggur, kemudian menaikkan ia ke atas keledai tunggangannya sendiri dan membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. (Luk.10:33-34).

Jadi perbuatan dari org Samaria ini sangatlah terpuji dan patut dikagumi oleh Yesus (Luk.10:36-37). Pemberian yg diberikannya ( dgn cara: membalut luka2, menyirami dgn minyak dan anggur, membawa ke penginapan dan merawat org yg hampir mati itu) adl merupakan ungkapan/tindakan kasihnya kepada sesama.

Jadi, benar adanya bhw Memberi adl Ungkapan/Tindakan Kasih.

7. Memberi adl Mempercayakan Sesuatu

Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata: ”Jangan kamu memberikan barang yg kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dgn kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu” (Mat.7:6).

Rasul Paulus berkata: ”Apa yg telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada org yg dpt dipercayai, yg juga cakap mengajar org lain” (2 Tim.2:2).

Rekan2 muda, memberi adl mempercayakan sesuatu. Ada hal2 dalam hidup ini yg tidak semua akan kita percayakan kpd seseorang jika org tersebut tidak bisa kita percayai. Utk memberi maka seseorang butuh keyakinan bhw org yg akan diberi dpt dipercaya. Kadang2 kita sering berkata: ”Eh, teman..ini rahasia loh! Jangan dikasih tau ama siapa2 ya! Rahasia ini cuman kupercayakan kepadamu. Jangan disebarluaskan ya! It’s Our Secret..” ,

atau cobalah membayangkan bagaimana seorang ayah mewariskan/mempercayakan hartanya kepada anaknya dan bagaimana dampak baik/buruknya bila disalahgunakan oleh anak2nya (Luk.15:11-32), atau cobalah membayangkan bagaimana seorang tuan/majikan yg mempercayakan kpd hamba2nya suatu talenta dan bagaimana dampak baik/buruknya bg mereka yg tidak mengusahakan/mengembangkannya (Mat.25:14-30), atau cobalah membayangkan bagaimana seorang sahabat mempercayakan hal2 yg rahasia dan segala sesuatunya kpd sahabatnya juga (Ams.17:17Yoh.15:15Mzm.25:14). Atau cobalah membayangkan bagaimana seorang suami mempercayakan kepada isterinya yg bijak/cakap segala hal dalam rumah tangganya (Ams.31:10-31).

Jadi, memberi adl mempercayakan sesuatu.

NAH, demikianlah renungan kristen yg telah saya sampaikan .

Kiranya renungan ini menjadi suatu pelajaran/pengajaran yg membawa berkat dalam hidup kita sehingga kita semakin mengerti apa isi hati Tuhan dalam hidup kita.

Salam Damai Sejahtera,

Ev. St. Jodi L. Parson R, S.H.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: